Minggu, 27 Maret 2016

UKM Hadapi MEA? Ini dia strateginya ...

usaha kecil2an saya ;p
Banyak UKM mungkin lebih tepatnya usaha mikro seperti saya yang tidak 'ngeh' bahkan tidak tahu apa itu Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sehingga tidak ada persiapan apa pun yang dilakukan demi bersaing dengan pelaku usaha kecil dan mikro dari negara ASEAN lainnya.

Saya sendiri, sebagai penyedia jasa kecil-kecilan turut mempersiapkan diri menghadapi MEA yang sudah berlaku sejak Desember 2015 lalu. Saya ingin bercerita dan berbagi tips sederhana yang saya jalankan demi bisa bersaing dengan pelaku usaha sejenis lainnya, mungkin bisa berguna ya..

Dalam menghadapi MEA, ada beberapa hal penting yang saya rasa sangat perlu ditingkatkan, apa pun jenis usahanya, yaitu:

KUALITAS
Ini nomor satu. Saat barang atau jasa yang kita jual jelek kualitasnya, sudah pasti kita tidak akan mampu bersaing. Bahkan jika hanya lumayan pun, rasanya tidak akan cukup untuk menjadi usaha yang bisa bertahan lama. Kualitas bagus sudah harga mati, syukur-syukur bisa dibuat di atas rata-rata.

Dari pengalaman saya, karena kebetulan saya bergerak di bidang jasa dan produk juga, saya berusaha membuat kualitas jasa serta hasil produk saya semaksimal mungkin, sesuai dengan budget yang tersedia, lalu saya lebihkan sedikit. Sebagai contoh, di bidang fotografi yang saya jalankan bersama suami, kami selalu berusaha mengeluarkan usaha ekstra (yang pada awalnya biasanya tidak kami mention kepada klien) untuk menghasilkan produk yang kualitasnya lebih dari yang diharapkan klien sebelumnya.

PELAYANAN
Saat kualitas sudah bagus, saatnya kita konsentrasi meningkatkan pelayanan. Banyak sekali penyedia jasa dan produk yang punya kualitas bagus, lalu bagaimana kita bisa stand out di antara mereka?, ya pelayanan yang bagus dan berbeda, dong.

Istilah 'pembeli adalah raja' bisa diaplikasikan secukupnya di sini karena memang bukan berarti kita mendewakan klien hingga mau melakukan apa saja. Yang saya lakukan kurang lebih sama dengan poin kualitas di atas, saya akan memberi yang terbaik lalu menambahkan sedikit lagi sebagai bonus sehingga klien merasa diistimewakan.

Inti dari pelayanan antara lain respon yang cepat seperti membalas email, menjawab pertanyaan, memberi apa yang di minta oleh klien, dan seterusnya.

BAHASA
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa di era MEA ini, bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris menjadi alat komunikasi yang minimal harus dikuasai oleh pelaku usaha termasuk usaha kecil. Saya ambil contoh, saat suami saya mendapat sidejob membuat foto dan video dari Brunei, sempat ada kendala bahasa yang terjadi. Memang mereka lebih banyak menggunakan bahasa Melayu di mana suami saya pun mengerti bahasa tersebut, namun seringkali, saat harus meeting dengan orang yang non Melayu, terpaksa bahasa Inggris lah yang dipakai.

Belajar dari hal tersebut, suami mau belajar dan akhirnya bisa berkomunikasi meski pun belum lancar tapi cukup lah untuk bekerja dan menjalin komunikasi dengan klien. Yuk, mulai perdalam bahasa Inggris kita. Belajar sendiri saja, bisa lewat buku, kaset, dan internet, kok.

PEMASARAN 
Sudah punya kualitas barang bagus, pelayanan pun oke, bahasa Inggris sudah mantap, lalu apa lagi?. Pemasaran adalah poin terpenting terakhir yang akan saya bahas di sini.

Pemasaran terbagi dua, yaitu offline dan online. Saya tidak terlalu banyak menjalankan yang offline karena kebetulan hasil mouth to mouth alias pemasaran dari mulut ke mulut sudah cukup punya dampak baik. Seringkali kami menerima klien yang mengetahui jasa kami dari klien-klien sebelumnya dan hal tersebut terjadi karena gabungan semua poin di atas tentunya.

Online adalah salah satu yang sedang saya bangun saat ini, lewat sosial media, wensite/blog, serta iklan yang murah meriah.

Mau tahu lebih banyak tentang marketing bagi usaha kecil? silahkan baca tulisan saya tentang "10 Ide Marketing Untuk Usaha Kecil"

Semoga bermanfaat yaaa..

***



Selasa, 22 Maret 2016

10 Ide Marketing Untuk Usaha Kecil

salah satu usaha sampingan saya yg kliennya dari mulut ke mulut

Sebenarnya ini adalah artikel lama namun saya recycle karena akhir-akhir ini saya ingin sekali mengembangkan satu dua usaha kecil yang sudah lama 'terlantar'. Saya pun kembali mencoba-coba beberapa ide marketing ini untuk menghidupkan usaha sampingan itu kembali.