Senin, 08 Agustus 2016

Gamal Nasir Terpilih Sebagai Tokoh Kelapa Sawit Nasional [updated]


Saya memang bukan pemerhati perkebunan, khususnya perkebunan kelapa sawit, namun saat mendengar ada seminar tentang kiat sukses replanting kebun kelapa sawit sekaligus peluncuran buku berjudul sama yang ditulis oleh bapak Gamal Nasir selaku Direktur Jenderal Perkebunan, saya pun tertarik untuk hadir dalam acara tersebut.


Menurut saya temanya menarik dan ‘seksi’ mengingat  produksi minyak kelapa sawit dunia saat ini hanya didominasi oleh dua negara yaitu Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini sama-sama mencapai sekitar 85 hingga 90 persen dari total produksi minyak kelapa sawit di dunia. Saat ini Indonesia merupakan produsen serta eksportir terbesar minyak kelapa sawit di seluruh dunia. Wow, ide replanting kebun kelapa sawit pasti cukup menggiurkan …

Dalam seminar sehari yang diadakan pada tanggal 26 Juli 2016 di Menara 165 tersebut, saya menyimak presentasi dari bapak Asmar Arsjad selaku SekJen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) yang sangat menarik. Ia menyampaikan banyak informasi yang sebelumnya tidak saya ketahui dan pahami.

Luas Kelapa Sawit Nasional adalah 11,3 juta hektar di mana 4,8 juta hektarnya adalah kebun kelapa sawit rakyat. Namun dari luas kebun sawit rakyat tersebut tingkat produktivitasnya hanya sekitar 3 ton/hektar/tahun yang antara lain disebabkan bibit tidak bersertifikat, lahan marginal, tidak dipupuk, tanaman tua, dan proses panen tidak sesuai aturan.

Kendala lain yang dihadapi adalah regulasi pemerintah yang tidak kondusif tidak bankable penetapan harga TBS tidak proposional  dan masalah teknis agronomis lainnya.

Adanya dana CSF, (CPO suporting fund / Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit) menjadi angin segar bagi petani kelapa sawit, peremajaan /hilirisasi / biodiesel bagi peningkatan kesejahteraan petani.


Dana tersebut antara lain digunakan untuk membantu peremajaan perkebunan kelapa sawit, pengembangan kelembagaan pekebun, serta unsur pendukungnya seperti pelatihan tenaga pendamping dan pekebun, penguatan organisasi, manajemen, tata kelola kelompok tani serta peningkatan kerjasama dan kemitraan.

Dalam kesempatan yang sama, para perwakilan dari petani kelapa sawit Indonesia memberikan penghargan tertinggi kepada sosok yang dianggap konsisten dalam membela petani yaitu bapak Gamal Nasir yang juga adalah Direktur Jenderal Perkebunan.

Bapak Gamal Nasir merupakan saksi sejarah perkembangan perkebunan rakyat di Indonesia karena ia terlibat dalam berbagai program nasional seperti PIR. Keterlibatannya itu pulalah  yang membuatnya mampu menghayati kehadiran perkebunan rakyat secara tepat dan proporsional.

Saat ini hampir 43 persen dari 11 juta total areal kelapa sawit  merupakan perkebunan rakyat. Sehingga kita tidak bisa mengindahkan kontribusinya terhadap perekonomi nasional. Bapak Gamal Nasir menyadari hal tersebut, sehingga suatu kali ia mengatakan bahwa hal yang tidak boleh terjadi ketika ada petani sawit mengendarai sepeda sementara pemilik kebun besar menikmati nyamannya mobil mewah. Tidak boleh ada penindasan petani kecil hanya karena ia adalah masyarakat biasa yang tidak memiliki kekuatan modal.
photo credit: ditjenbun
Dalam beberapa kesempatan bapak Gamal juga melakukan pembelaan secara langsung terhadap petani yang diperlakukan tidak adil oleh perusahaan. Beberapa regulasi dan program yang ia keluarkan pro pada perkebunan rakyat. Puncaknya ia menjadi salah satu yang keras menentang standar-standar pada kelapa sawit yang berdampak buruk terhadap petani. 

Ia adalah pemimpin yang memilih untuk bertindak daripada berbicara di depan forum dalam membela petani. Kekuatannya bukan pada suaranya yang lantang melainkan kemampuan negosiasinya, goresan tangannya di atas  berbagai surat keputusan dan keberaniannya mengambil keputusan yang tidak populer.

Kiprahnya tersebut lah yang membuat wakil petani kelapa sawit Indonesia memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada sang tokoh petani kelapa sawit yang telah konsisten membela pekebun rakyat, baik secara pribadi mau pun  melalui institusi. Dan menjadi tokoh dibalik kebijakan perkebunan yang pro people dan environment.

Bapak Gamal Nasir menyatakan rasa senang sekaligus terharu atas penghargaan tersebut. Selama 6 tahun menjadi Dirjen ia mengakui bahwa ia memang lebih banyak berhubungan dengan petani kelapa sawit serta tebu dan jarang sekali berhubungan dengan perusahaan.
photo credit: kakao-indonesia
Ia juga menyinggung soal moratorium yang merupakan keputusan Presiden yang harus dipatuhi. Artinya moratorium dengan syarat harus lebih berkeadilan bagi petani. Sambil moratorium berjalan maka semua kebun petani yang produktivitasnya rendah harus direplanting seluruhnya.

Ia berharap setelah moratorium maka kebun milik petani produktivitasnya bisa tinggi dan hal ini akan mengangkat perekonomian petani mandiri.

Jangan kuatir produksi akan menurun akibat moratorium. Indonesia sudah memiliki kebun kelapa sawit paling luas di dunia. Tidak ada negara lain yang sanggup memiliki lahan sebesar itu. Sekarang lebih baik fokus pada peningkatan produktvitas. “Bahkan yang harus diwaspadai adalah Ghana, Pantai Gading yang mulai menebang kakao diganti dengan kelapa sawit,” himbau bapak Gamal.

Sekali lagi bapak Gamal mengingatkan bahwa yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara meningkatkan produktivitas tanaman milik rakyat. 

Dalam kesempatan yang sama, beliau juga memberi saran kepada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) agar porsi replanting diperbesar bagi petani swadaya dan petani mandiri. Karena dengan memperbesar replanting kelapa sawit, diharapkan akan meningkatkan pekonomian para petani serta berpengaruh positif juga terhadap ekonomi negara.

Ya, semoga saja pemilihan bapak Gamal sebagai tokoh kelapa sawit nasional membawa angin segar bagi para petani kelapa sawit khususnya dan perekonomian negara pada umumnya.

photo credit: Ani Bertha
suasana seminar
*********

0 komentar:

Posting Komentar